Dalam sesi pemaparan, Ignatius Denny Wicaksono menjelaskan secara mendalam mengenai potensi serta manfaat Waran Terstruktur (WT) di pasar modal Indonesia. Produk ini telah berkembang sejak diluncurkan pada September 2022, dan kini semakin diminati oleh investor, terutama generasi muda yang tertarik dengan instrumen volatilitas tinggi dan peluang return cepat.
Menurut Denny, WT menawarkan leverage tinggi dengan modal yang lebih kecil serta memberikan berbagai pilihan strategi investasi dan lindung nilai (hedging) bagi investor. Bursa Efek Indonesia pun terus melakukan berbagai pengembangan, termasuk perluasan underlying dari IDX30 ke IDX80, peningkatan sistem pemantauan perdagangan, serta sosialisasi dan edukasi berkelanjutan.
Pada sesi berikutnya, Afif Saipudin menyoroti aspek manajemen risiko bisnis Waran Terstruktur. Ia menegaskan bahwa produk ini memiliki karakteristik yang lebih agresif dibandingkan saham biasa, sehingga perlu pengelolaan risiko yang lebih ketat. Bursa telah menerapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas pasar, termasuk implementasi Auto Rejection dan Maximum Price Movement sejak Desember 2024.
Afif juga mengingatkan anggota bursa untuk memperketat mekanisme trading limit, keamanan sistem, serta kontrol akses, guna mencegah transaksi tidak wajar yang dapat merugikan anggota bursa maupun investor.
Melalui acara ini, APEI berharap seluruh anggota bursa dapat memanfaatkan produk Waran Terstruktur secara optimal, aman, dan sesuai regulasi. Dukungan dari BEI dalam bentuk insentif penerbitan WT, edukasi, serta pengawasan perdagangan menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa produk ini dapat berkembang dengan baik tanpa menimbulkan risiko yang berlebihan bagi pelaku pasar.
Acara ini diikuti oleh hampir 200 peserta, termasuk perwakilan dari berbagai perusahaan efek. Dengan semakin luasnya pemahaman terhadap Waran Terstruktur, diharapkan instrumen ini dapat menjadi alternatif investasi yang menguntungkan sekaligus mendorong pertumbuhan likuiditas di pasar modal Indonesia.