P: +62 21 5152894, 5152895, 5152902 sekretariat@apei.or.id

Seminar Pasar Modal - Artificial Intelligence di Pasar Modal: Tantangan, Ancaman, dan Peluang

Monday, 31 August 2026

JAKARTA, 31 Agustus 2026 – Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) sukses menyelenggarakan Seminar Pasar Modal Indonesia bertajuk "Artificial Intelligence di Pasar Modal: Tantangan, Ancaman, dan Peluang". Bertempat di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), acara ini mempertemukan regulator, pelaku industri efek, dan praktisi teknologi untuk membedah arah transformasi digital industri keuangan nasional.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan pembuka yang disampaikan oleh Ketua Umum APEI, Prama Nugraha, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy.

AI dan Realitas Baru Pasar Modal Indonesia

Sesi pemaparan pertama menghadirkan Adikin Basirun, Komisaris Independen PT Ajaib Sekuritas Asia sekaligus penggiat teknologi informasi. Dalam paparannya, Adikin menyoroti lonjakan investor pasar modal yang kini telah menembus lebih dari 30 juta SID, di mana lebih dari 85% di antaranya didominasi oleh investor ritel digital.

Adikin menggarisbawahi bahwa adopsi AI di tingkat institusi telah berjalan pesat melalui pembaruan matching engine bursa, sistem smart surveillance regulator, hingga asisten investasi digital di perusahaan efek. Kendati demikian, industri masih dihadapkan pada ancaman nyata kejahatan siber berbasis AI—seperti manipulasi pasar berlatensi tinggi, voice cloning, dan potensi kerugian penipuan yang kian masif—serta tantangan regulasi terkait akuntabilitas algoritma (Explainable AI).

Kunci daya saing talenta pasar modal bukan terletak pada perlombaan melawan kecepatan mesin, melainkan pada kemampuan merawat pemikiran analitis (analytical thinking), pertimbangan profesional (professional judgement), dan etika tata kelola yang bertanggung jawab.

Peluang Ekosistem Baru: Sinergi AI dan Securities Crowdfunding

Sesi berikutnya dipaparkan oleh Patrick Gunadi, Ketua Umum Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI). Mengangkat topik peluang profesional pasar modal, Patrick menegaskan bahwa disrupsi AI tidak serta-merta melenyapkan lapangan kerja, melainkan menggeser ruang penerapannya ke area yang membutuhkan keahlian strategis.

Salah satu wadah ekspansi kompetensi tersebut adalah ekosistem Securities Crowdfunding (SCF) di bawah kerangka regulasi POJK 17/2025. Dengan penghimpunan dana SCF yang telah melampaui Rp2 triliun untuk ratusan UKM penerbit, keahlian tradisional insan pasar modal—mulai dari analisis fundamental, penataan struktur efek (securities structuring), manajemen risiko, hingga kepatuhan (compliance)—tetap sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas penerbit dan perlindungan pemodal. Integrasi data alternatif berbasis AI di SCF dinilai menjadi akselerator penting dalam proses due diligence dan perluasan inklusi pendanaan ke sektor riil.

Tanggapan dan Dialog Interaktif

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi tanggapan dan tanya-jawab yang dipandu langsung oleh Direktur Eksekutif APEI, Lily Widjaja, selaku moderator. Diskusi interaktif bersama para peserta menyoroti kesiapan anggota bursa dalam mengadopsi kerangka kerja AI internal, penguatan perlindungan data nasabah, serta urgensi peningkatan keahlian (upskilling) bagi tenaga kerja industri efek agar tetap adaptif dan relevan menghadapi era kecerdasan artifisial.