P: +62 21 5152894, 5152895, 5152902 sekretariat@apei.or.id

Capital Market Cyber Resilience Forum: Strengthening Trust and Security in the Digital Capital Market

Senin, 29 Juni 2026

JAKARTA – Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) dalam gelaran Capital Market Cyber Resilience Forum yang berlangsung di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Langkah ini diambil sebagai respons nyata terhadap eskalasi ancaman siber global serta komitmen bersama dalam melindungi data nasabah dan menjaga stabilitas ekosistem pasar modal digital Indonesia.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Umum APEI, Prama Nugraha, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi kompleksitas ancaman siber saat ini. Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum ADIGSI, Firlie H. Ganinduto, menggarisbawahi bahwa keamanan siber bukan lagi sekadar urusan divisi IT, melainkan pilar utama keberlangsungan bisnis dan kepercayaan publik. Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, turut memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif bersama ini yang dipandang mampu memperkokoh daya saing pasar modal nasional di kancah global.

Slamet Aji Pamungkas (BSSN): Arsitektur Ketahanan Siber Nasional

Dalam sesi Inspiring Remarks utama, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Slamet Aji Pamungkas, memaparkan urgensi penerapan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2023 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional dan Manajemen Krisis Siber. Beliau menegaskan bahwa sektor keuangan, khususnya pasar modal, merupakan Infrastruktur Informasi Vital (IIV) yang wajib memiliki tingkat deterensi atau daya tangkal siber yang andal.

"Ketahanan siber nasional tidak bisa dibangun secara parsial atau sendirian. Diperlukan kolaborasi aktif antara regulator, pelaku usaha, hingga komunitas. Melalui Manajemen Krisis Siber yang terstruktur—baik sebelum, saat terjadi, maupun setelah insiden—kita dapat meminimalisir dampak kerugian operasional dan menjaga kedaulatan digital ekonomi Indonesia."

— Slamet Aji Pamungkas, Deputi BSSN

Hasan Fawzi (OJK): Keamanan Siber adalah Risiko Bisnis dan Kepercayaan

Melanjutkan pandangan dari perspektif regulasi industri, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menekankan adanya pergeseran fundamental pada preferensi investor masa kini. Kecepatan transaksi digital saat ini harus diimbangi secara mutlak dengan jaminan keamanan, keandalan, dan ketersediaan layanan yang prima tanpa gangguan.

Hasan memaparkan bahwa berdasarkan arahan penguatan ekosistem, tata kelola keamanan siber merupakan tanggung jawab kolektif di dalam organisasi perusahaan efek. Mulai dari Dewan Komisaris yang melakukan pengawasan independen, Direksi yang menentukan arah strategis, hingga Divisi IT dan seluruh organisasi. Hubungan yang selaras ini sangat krusial agar risiko siber tidak bertransformasi menjadi risiko sistemik yang merusak ekosistem pasar.

"Pasar modal adalah industri yang murni dibangun di atas pondasi kepercayaan. Kepercayaan adalah mata uang baru di era digital ini. Pasar modern tidak lagi hanya diukur dari seberapa cepat eksekusi transaksinya, melainkan seberapa tangguh dan resilien sistem tersebut saat berada di bawah tekanan atau gangguan siber."

— Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas PMDK OJK

Implementasi Nyata Melalui Cyber Resilience Assessment Program

Sebagai bentuk konkret dari kerja sama ini, dikembangkan peluang kolaborasi melalui Cyber Resilience Assessment Program. Program ini dirancang khusus untuk memahami dan mengukur kesiapan siber (cyber readiness) organisasi perusahaan efek di Indonesia melalui pendekatan terukur yang mencakup aspek utama seperti Governance, Critical Systems, Security Controls, Incident Response, hingga Third-Party Risk.

Melalui program penilaian ini, setiap perusahaan efek akan dipandu melalui empat tahapan utama, yakni Assess (menjawab pertanyaan berdasarkan kondisi organisasi), Review (meninjau hasil), Measure (memetakan tingkat kesiapan dan kesenjangan), serta Prioritize (menentukan area penguatan dan tindak lanjut). Hasil akhir dari asesmen ini akan memberikan dokumen gambaran kesiapan siber yang komprehensif bagi perusahaan efek guna menentukan skala prioritas investasi keamanan mereka.

Tiga Langkah Strategis Pasca-Forum bagi Perusahaan Efek:
  • Map what matters: Tentukan layanan, aset, data akses nasabah, dan vendor kritikal yang paling berpengaruh pada bisnis.
  • Check the gaps: Gunakan readiness/maturity assessment untuk melihat area prioritas penguatan organisasi.
  • Practice decisions: Uji jalur eskalasi, respons insiden, komunikasi, dan pemulihan layanan melalui simulasi seperti Tabletop Exercise (TTX).

Dengan diselenggarakannya forum ini, kolaborasi APEI dan ADIGSI diharapkan dapat menumbuhkan budaya ketahanan siber yang terukur dan berkelanjutan. Sinergi ini memantapkan posisi pasar modal digital Indonesia tidak hanya sebagai pasar yang modern dan kompetitif, namun juga aman, terpercaya, dan tangguh dari segala bentuk tekanan ancaman siber masa depan.